rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites
Tampilkan postingan dengan label #NegeriOrang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #NegeriOrang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Januari 2013

#NegeriOrangPart31: Terdampar

Kita hidup memang sebagai musafir, yang mendamparkan diri dari tempat ke tempat.

Tak heran sesungguhnya ketika saya terdampar (baca: tersesat). Saya bukanlah orang yang pandai menghafal jalan sekali lewat, butuh berkali-kali. Tapi terkadang itu tak masalah ketika saya terdampar di pusat kota dengan hiruk pikuk orang-orang dan perangkat kota.

Tapi baru kali ini saya terdampar di tempat yang sepi, di mana tak ada orang untuk tempat bertanya, setelah supir taksi itu menanyakan saya apakah benar tempatnya di sini.

Sekeliling saya salju, sebuah tempat yang dikelilingi pagar tinggi, dan beberapa rumah sepi. Walau suara klakson mobil terus berbunyi kendati ada sebuah jembatan layang tinggi di atas tempat tersebut.

Oke, ini saya di mana? Saya yang terbiasa dengan keramaian Seoul harus menyerah dengan keheningan salah satu sudut kota Daejeon. Saya telepon teman saya, saya katakan bahwa saya tersesat, tapi dia menyarankan untuk menunggu taksi lain lewat. Di tempat yang entah kenapa seperti ujung dunia itu--oke, jangan ingatkan saya akan cerita Mr. Quin, Agatha Christie--saya saja pesimis akan menemukan seseorang.

Tapi inilah enaknya hidup di negeri teknologi. Dengan kualitas sinyal mumpuni, walau di tempat yang entah di mana, saya akhirnya bisa merasakan manfaat yang cukup berarti dari smart phone yang saya beli. GPS menyala, dan saya kembali terkejut...

Kenapa saya bisa terdampar sejauh ini?!! 1 km mendekati 2km sepertinya. Sepertinya supir taksi tidak mendengar nomor rumah alamat yang saya minta, sehingga dia mengantarkan sampai ke ujung desa -_-...

Namun dengan suasana sekitar yang putih merata ditutupi salju, ditambah gemericik air yang sesekali, saya tahu bahwa tak ada salahnya saya tersesat. Walaupun terkadang saya harus mengeluh karena jalan bersalju yang membuat sepatu saya basah dan kedinginan, saya tahu hahwa saya harus bersyukur karena bisa menikmati salju yang setiap tahun hanya bisa saya lihat di film-film natal di televisi. Setelah melihat salju, saya sering merutukinya sebenarnya. Licin, dingin, membuat saya harus memakai baju tebal dan berat, pernah membuat saya terpeleset. Tapi memang manusia tak akan pernah bisa melawan alam. Merasa bisa, tapi tak akan pernah sanggup menghias alam hingga seindah ini.

Jauh, bawaan berat di tangan, dingin, lolongan anjing, mobil-mobil yang sese kali lewat dan pengemudinya memandang aneh kepada saya, atau tatapan heran orang yang sesekali melintas. Saya bisa saja meminta orang yang lewat di situ untuk mengantarkan saya ke tempat tujuan, tapi entah kenapa saya tidak mau. Biarlah, saya sedang ingin sendiri--tidak--berdua dengan alam.

Tabik.
2013-01-02

Wanna More.?

Kamis, 27 Desember 2012

#NegeriOrangPart30: Cerita Tak Utuh

Terkadang senyum itu bisa lahir dari teman-teman yang baru saja kamu kenal.

Jika kita banyak melewatkan waktu bersama, wajar jika banyak tawa yang terlepas.
Jika kita banyak berbagi bersama, wajar jika perpisahan menjadi beban.
Jika kita banyak berjalan bersama, tak heran jika tukar-menukar hadiah menjadi kebiasaan.

Tapi jika tidak? Saya bisa menghitung hari-hari yang saya lewatkan bersama dengan teman-teman Vietnam, Eungok-Ahn-Teuk ahn-Phuong, lima jemari itu pun tak sampai. Kami pertama kali bertemu saat mereka baru sampai di Seoul, dan pertemuan selanjutnya--sekaligus terakhir--adalah hari ini. Di lain itu, saya hanya berbagi senyum dan sapa dengan mereka, kendati kami berada di kampus yang sama.
Phuong, saya, dan Ahn. Sayang Eungok dan Teuk Ahn tak terpotret
Wanna More.?

Senin, 24 Desember 2012

#NegeriOrangPart29: Ketika Teman Ngopi dan Ngeteh Itu Pulang...

Kau salah ketika mengatakan bahasa adalah penghambat. Dulu ketika manusia hanya bermodalkan batu dan bahasa sederhana pun mereka bisa hidup. Bukan, jangan salahkan bahasa, tapi pupuklah keterikatan itu.

Benar memang kata orang, menyeruput secangkir kopi atau teh dengan seorang teman memang membuat waktu melesat bagaikan anak panah. Bukan, bukan karena secangkir kopi atau tehnya. Bukan pula suasanya yang mendukung. Tapi karena ribuan kata yang mengalir di sela-selanya.

Anda bisa menikmati secangkir kopi atau teh dengan siapa saja, tapi ternyata belum tentu bisa meresapi hangatnya cerita yang ada di dalamnya. Tidak dengan semua orang ternyata kisah seduhan kopi dan teh bisa dinikmati. Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk saling berbagi cerita.


Wanna More.?

Jumat, 21 Desember 2012

#NegeriOrangPart28: Ibu Marah pada Saya Tidak Ya?

멀어서 슬프고슬퍼서 흠도 티도 없는사랑이여--유안진
Karna jauh ku sedihkarna sedih, cinta pun tak berkeluh debu...

Ibu saya marah pada saya tidak ya? Anaknya yang jauh, yang sejak dua tahun lalu hanya pulang sekali dua kali setahun, mungkin tidak akan menelepon pada hari ibu. Walau setidaknya bukan karena lupa, tapi alasan tidak punya pulsa telepon internasional mungkin akan menyakiti hati Ibu saya.


Apakah Ibu berpikir, tidakkah saya rindu dengannya? Tidakkah saya ingin mengucapkan selamat padanya? Tidakkah saya sayang dengannya? Tidakkah saya tidak lupa dengannya?

Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan ini bisa menjawab semua pertanyaan itu. Tapi jikalau saya menjadi Ibu, mungkin saya juga akan menangis. Anaknya menyerah hanya karena tidak punya pulsa telepon.
Wanna More.?

Kamis, 20 Desember 2012

#NegeriOrangPart27: Oke, Ini Air Mata

Kehidupan kita bagai musafir yang lalu lalang memang. Tapi, bukannya musafir tidak menangis ketika dia meninggalkan tempat yang disinggahinya bukan?

Oke, ini memang air mata. Saya tahu sebenarnya bahwa saya paling tidak akan sedikit menelan ludah saat menyampaikan pesan dan kesan saya dalam Upacara Kelulusan Kelas Bahasa Korea IIE (Institute of International Studies) Universitas Kyunghee. Tidak perlu menangislah, pikir saya.

Tapi, memang pada dasarnya saya adalah orang yang mudah menangis. Walaupun air mata itu tidak akan lama mengalirnya.


Saya sendiri tidak tahu kenapa sengaja mengambil tema 'menyedihkan' untuk upacara kelulusan ini. Sebenarnya cukup dengan menjabarkan apa yang saya dapat, apa yang saya pelajari, dan apa yang akan saya lakukan ke depannya. Tapi setiap tahun selalu sama seperti itu. Bosan? Ya, saya terkadang memang tidak suka dengan pengulangan yang sama. Jika kita bisa berbeda, kenapa tidak?

Wanna More.?

Selasa, 18 Desember 2012

#쓰기숙제: 라투보코 올라가서

기행문이란...우리가 봤던 것 뿐만 아니라 우리가 느꼈던 것도...


인도네시아에는 힌두-불교 사원이 많다. 특히 우리 대학교에서 45분 동안 버스를 타면 큰 사원을 찾을 수 있다. 대학교 2 학년 때 어는 삼복더위에 나는 친구들과 같이 '라투보코'라는 사원에 다녀왔다. '보루부두르' 사원보다 별로 유명하지 않지만 라투보코 사원은 산에 있다는 점에서 호기심이 생겼다.

아침 9시에 학교에서 모여서 버스로 출발했다. 주말이라서 만원버스처럼 사람이 가득 차 있었다. 한 시간동안 계속 서 있었지만 친구랑 이야기를 했더니 목적지에 다다랐다. 땅을 밟았더니 우리의 눈 앞에서 큰 사원이 보였다. 그런데 우리가 갈 사원이 그 사원이 아니었다. 라투보코 사원에 가고자 마을 버스를 타야 됐다.
Source: google.com

Wanna More.?

#NegeriOrangPart26: Melihat dari Jauh

Saya suka melihat dari jauh. Kamu bisa melihat segalanya tanpa terkotori oleh pikiran orang-orang di sekelilingmu. #Pendakian

Melewati satu setengah bulan tanpa satu tulisan pun, saya menyadari bahwa saya kembali pada titik awal. Titik di mana setelah peristiwa tersebut saya tiba di sini. Singkatnya, tak terasa sudah hampir sebulun bulan.

Source: balairungpress.com

Pemira. Saya diberi kesempatan untuk melihat dari jauh #PemiraUGM kali ini. Tanpa bisikan-bisikan dari kiri kanan, saya bisa melihat walaupun tak jelas.

Mengikut  dan  ttg  , namun sampel sy a/ teman2 sekelas Bahasa Korea saya

Diawali dg tgas presentasi, sy mmutuskan untk mmlih tema apatisme masyarakat dalam pemilu 

Ini plhan yg sulit memang,mengingat beberapa alasan:1. Kmgkinan bhw tman2 sy tdk brminat trhdp pmilu 
Wanna More.?

#NegeriOrangPart25: Apatis?

Terkadang kita butuh memahami bahwa tidak ada orang yang bertindak tanpa alasan.

Anda bisa menemui kursi khusus untuk penyandang cacat, lansia, dan ibu hamil di setiap pojok gerbong subway. Total dua belas kursi di setiap gerbongnya. Tentunya Anda tidak bisa duduk di situ, walaupun sedang kosong. Jatah Anda adalah kursi-kursi yang terletak di tengah gerbong. Tenang saja, jumlahnya tentu melebihi kursi khusus.


Ketika pertama kali menaiki subway (kereta bawah tanah), saya pernah sekali tidak sengaja menduduki kursi khusus tersebut. Padahal warnanya berbeda dari kursi biasa, dan di sekelilingnya adalah orang-orang tua. Namun, mungkin karena semua dalam pandangan saya adalah sesuatu yang baru di mana saya tentu saja tidak sempat memerhatikan sekitar. Sampai seorang kakek menunjukkan tanda kursi khusus sebagai isyarat agar saya pergi.
source: www.naver.com

Wanna More.?

Rabu, 24 Oktober 2012

Berbicara Denganmu...

어머니
당신은 그 먼 나라를 알으십니까?
--신석정
Ibu, apakah kau tahu di mana negara jauh itu berada? 
Source: dok pribadi

Sudah lama rasanya saya tidak berbicara lepas dengan adik saya, Said. Bahkan kadang ketika berbicara pun, rasanya masih saja ada rasa canggung dan segan. Ketika kami bertemu di rumah pun, saya rasa kami jarang berbicara. Mungkin satu dua, ketika salah satu dari kami butuh 'wejangan'. Maka, ketika tadi saya bisa berbicara lepas selama satu jam dengannya, saya seperti merasakan arti sesungguhnya dari kosakata 회포를 풀다, yaitu curhat.


Kami jarang bertemu, sejak Said pergi ke Kuningan, Ciremai, untuk menempuh pendidikan di pondok pesantren Husnul Khotimah. Saat dia pergi, saya kelas dua SMP. Otomatis, saya belum merasakan apa itu namanya perpisahan. Toh, dia kan bersekolah, setahun sekali dua kali akan bertemu, jadi tak perlu melankolis. Saya masih SMP memang, masih belum mengerti dunia (walau sekarang juga belum).
Wanna More.?

Selasa, 16 Oktober 2012

#NegeriOrangPart24: "Two Doors", Human's Greed?

Because of greed, the first crime in this world occured: Qabil killed Habil

I got two free tickets to watch indie film named "Two Doors" (두개의 문). Since it's free, in the first I don't care about the topic of this film. Although I knew this film is about Yongsan Tragedy, but actually I don't know what Yongsan Tragedy is.

Two Doors is a documentary film which is related with Yongsan Tragedy of 2009. This tragedy took the lives of five evictees (철거자) and one police of SWAT (경찰 특공대) unit member. In case of actualize Yongsan Industrial District blue print, Korean government displacing some of Yongsan citizens to the other place. But there are some problem about compensation that has to be given to evictees. Because the compensation was much too little, those evictees demonstrated against government.

Source: www.naver.com
Wanna More.?

Rabu, 10 Oktober 2012

#NegaraOrangPart23: 한중일 하모니, East Asian Harmony

Dunia adalah kumpulan manusia-manusia. Maka jangan mengutuk jika ada pertengkaran, perkataan buruk,ataupun pertumpahan darah. Bermula saat Qabil membunuh Habil. Sama namun tidak sama, tidak sama tetapi berbeda.

Source:
http://blog.naver.com/jewelry1974?Redirect=Log&logNo=50141086016
Sejak saya memasuki kelas advance di  Institute of International Studies Kyunghee University (semacam lembaga bahasa), saya mulai merasakan adanya 'kesatuan' dan dominasi dari orang Korea, Jepang, dan China. Dari segi jumlah, mereka jelas menang. Ketika memasuki kelas advance Bahasa Korea, kebanyakan memang diisi oleh orang China dan Jepang. Tidak terlalu banyak ditemui murid dari negara lain. Contohnya, saya sebagai orang Indonesia terasing di antara orang China dan Jepang. Di kelas sebelah juga, ada satu orang murid Kazakhstan, ditengah kepungan China dan Jepang.


Hal ini wajar, mengingat mereka memiliki banyak kesamaan mulai dari fisik, filosofi hidup, dan bahasa yang digunakan. Konfusianisme sangat terasa di China dan Korea, dan mungkin juga Jepang walau tak seberapa. Aksara China juga dipakai di Jepang dan Korea walaupun kedua negara tersebut memiliki tulisan tersendiri. Maka dari itu, kosakata bahasa China, Jepang, dan Korea tidak jauh berbeda karena berasal dari karakter huruf China. Maka dari itu, tidaklah salah jika berkata bahwa ketiga negara tersebut berasal dari satu rahim.
Wanna More.?

Senin, 01 Oktober 2012

#NegeriOrangPart22: Street Performance, Ideologi, dan Ketahanan Nasional

독도, 대한민국, 붉은 악마항상 크게 소리 지르네..(Dokdo, Daehan Minguk (Korea), Setan MerahSelalu mereka dengungkan dengan penuh semangat)...

Hongdae-nama salah satu jalan terkenal di Seoul-memang terkenal dengan street performancenya. Saya kira ini hanya pertunjukan seni biasa, tapi ternyata tidak. Jika didengar baik-baik, banyak ideologi yang diselipkan dan disebarkan.

Malam ini adalah kali pertama saya menikmati street performance di Hongdae. Meskipun terkenal, baru kali ini saya tertarik untuk melihatnya. Jika sebelumnya saya hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang menarik, maka setelah melihatnya, saya memberikan applause penuh untuk ini.
Pertunjukan Seni Jalanan di Hongdae

"Dokdo adalah milik Korea!" 
Wanna More.?

Kamis, 30 Agustus 2012

#NegeriOrangPart21: A Trip to Busan1 "Let's Goo!"

Sebenarnya saya bertanya juga sih, sejak kapan saya jadi rajin memosting pengalaman jalan-jalan saya. Saya hobi berjalan-jalan --plesir yah maksudnya-- pun belum lama, baru pada saat saya memasuki kuliah dan menemui anak-anak yang super...


Bicara tentang kuliah, tiba-tiba saya sedih. Nanti pada saat saya pulang ke Indonesia, saya sudah punya dua angkatan adik kelas di bawah saya. ㅠ.ㅠ ㅠ.ㅠ ㅠ.ㅠ
Apa yang harus saya lakukan?~~~
Oke, lupakan.

Saya punya beberapa fase tipe tulisan ketika menulis di blog--apaan sih. Pertama, ketika saya masih SMA dan masih alay kimcil, tulisan saya benar-benar sulit dibaca. Perpaduan lembut dari tulisan besar dan tulisan kecil, konsonan dan konsonan, dan sebagainya yang membuat saya berpikir, pernahkah saya membuat tulisan seperti itu? Bahkan dulu saya pernah membuat blog khusus untuk tulisan2 alah--waktu itu dianggap belum alay--sampai akhirnya saya putuskan untuk digabung saja. Let's check malusebenarnyapostingulangpostinganini

Wanna More.?

#NegeriOrangPart20: Ied Pertama Namun...

Selama ini, saya terus meyakinkan diri saya bahwa perjuangan bangsa Indonesia untuk maju sedang dimulai dan pasti akan membuahkan hasil. Terus meyakinkan diri saya bahwa saya bangga menjadi orang Indonesia. Tapi tiba-tiba saya goyah sampai hari ini.
Permasalahan kecil sebenarnya --> Sampah. Tapi meskipun kecil, saya merasa bahwa bukan tak mungkin dikarenakan hal itu kita masih belum puas dengan apa yang dicapai oleh bangsa kita sampai saat ini.

Apalagi karena kejadian ini terjadi setelah Shalat Ied, saya serasa tak bisa memaafkan hal ini. Selepas shalat Ied, sejauh mata memandang hanyalah sampah yang berserakan di mana-mana. Tas bingkisan, botol air mineral, brosur, bahkan roti yang sama sekali belun tergigit.
source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIJ_VXLuyCJDsxhS6yAZW1MjTwWyksT6-nm4T9KGEn0m7CQqB7IFnEommdIHTt-AqP0Qa1CWexLkmM7Qnzfe_qwj-x_-JrmLKTEFsBWJV7jrmwJtMKPR-M8dNmamJTp3kn-lCpBquW87V1/s1600/sampah.gif


Wanna More.?

Sabtu, 18 Agustus 2012

#NegeriOrangPart19: Demilitarian Zone of Korea5 "Catatan Akhir Sebuah Perjalanan"

Pada akhirnya saya bisa merasakan kenapa masa-masa wajib militer (wamil) bagi seorang lelaki Korea itu merupakan masa yang menegangkan. Mereka menangis saat berangkat, dan menangis lagi saat pulang...


Credit:  http://www.worldatlas.com/webimage/countrys/asia/koreanpn.gif 
Pertama kali yang saya rasakan pada saat saya tiba di DMZ, adalah ketegangan. Bukan cuma dikarenakan melihat para tentara yang memegang senapan, tapi karena ada perbatasan di sana. Perbatasan yang suatu saat bisa terus ada, atau--lebih baiknya--menghilang seperti Tembok Berlin.

Wanna More.?

#NegeriOrangPart18: Demilitarian Zone of Korea4 (Imjingak)

Meskipun sedih dan pahit, kita tetap menyimpan doa bukan?


Bagaimanapun, perang selalu menyisakan kepedihan, bagi yang merasakan maupun yang mendengarkan kisahnya. Tak ada perang tanpa korban, tak ada perang tanpa pengorbanan, dan tak ada perang tanpa sakit. Tapi memang lebih baik perang menimbulkan sakit, karena pada akhirnya manusia tahu bahwa terus berperang itu bukan solusi.

Imjingak Resort
Wanna More.?

#NegeriOrangPart17: Demilitarian Zone of Korea3 (Dorasan Station)

Pasti nanti, nanti kita akan bertemu lagi. --Stasiun



Tiba-tiba saya teringat tulisan saya akan puisi-puisi yang bertebaran di stasiun kereta bawah tanah Korea (#NegeriOrangPart5: Puisi di Subway?...). Entah kenapa, stasiun merupakan tempat yang romantis bagi saya. Ada pertemuan, ada perpisahan. Karena itu, saya begitu terkesan akan puisi-puisi yang dipajang di stasiun subway. Di samping sebagai "penyejuk hati" di tengah suasana kota yang sibuk dan tak henti, adanya suasana hening dan bahagia menambah kekhidmatan puisi itu sendiri.

Dorasan Station. Mengingatkan saya pada kata Dorawa (돌아와), kembali...
Tempat ketiga yang saya kunjungi adalah Dorasan Station. Dari luar, stasiun ini tak jauh berbeda dengan stasiun subway seperti umumnya. Tapi ketika mencoba mengetahui kenapa stasiun ini dibangun, harapan baru terus menyeruak...
Wanna More.?

#NegeriOrangPart16: Demilitarian Zone of Korea2 "When You Can See North Korea..."

Kadang saya berpikir, adakah ambisi penaklukan itu mesti ada?

Oke, saya lupa nama tempat kedua yang saya kunjungi pada saat DMZ Tour. Tapi tempat kedua ini adalah tempat yang saya suka, karena--walaupun melalui teropong--saya bisa melihat Korea Utara.


Perbatasan yang diam. Dibatasi oleh sungai dan hutan, perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan seakan menggambarkan dinginnya relasi di antara mereka. Jikalau saya terbiasa dengan bisingnya Seoul sehari-hari, maka saya melihat sepinya Korea Utara. Tentu saja yang saya lihat bukanlah pusat kota--Pyeongyang--namun tetap saja sepi saya rasa.

Di sinilah kita bisa melihat Korea Utara melalui teropong.
Sayang tidak diperbolehkan mengambil foto lebih dekat

Wanna More.?

#NegeriOrangPart15: Demilitarian Zone of Korea1 (The 3rd Tunnel)


Ada yang harus dibayar ternyata untuk sebuah ideologi dan 'persatuan'

Akhirnya saya berkesempatan membuat postingan tentang DMZ. Rasa tulisannya tentu saja berbeda dengan saat ketika saya baru saja pulang dari sana. Well, bagaimanapun juga, saya tahu bahwa saya harus memposting ini.

DMZ aka Demilitarian Zone, adalah tempat yang pertama kali teringat di otak saya ketika saya sampai di Korea. Saya sangat ingin mengunjungi Panmunjeom, perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Karena itu, ketika mendapatkan tawaran DMZ Tour gratis dari National Health Insurance Corporation (NHIC, 국민건강보험공단) Korea Selatan, langsung saja saya iyakan. Selain gratis (#kode mahasiswa), saya berharap bisa mendapatkan ilmu baru dari tur ini. 

Sekedar info, pergi ke DMZ bukanlah hal yang mudah. Kita harus mendaftar tur khusus DMZ yang biasanya diadakan oleh beberapa agensi travel. Biayanya juga lumayan waw, apalagi untuk ukuran mahasiswa. Harus ada minimal 30 orang jika ingin masuk ke DMZ.


Setelah diawali dengan info tentang asuransi kesehatan di Korea, siang pukul 12.30 kami langsung berangkat ke DMZ yang terletak di Paju, Provinsi Gyeonggi. Ada sekitar 3 tempat yang akan kami kunjungi, yaitu Imjingak (임진각), Dorasan Station (도라산역), dan The 3rd Tunnel (제 3땅굴). Sayang Panmunjeom tidak ada di sini.
Tugu (?) DMZ di depan jalan masuk Terowongan Ketiga
Wanna More.?

Jumat, 17 Agustus 2012

#NegeriOrangPart14: Malam Terakhir dan Elegi Ramadhan

Mungkin sama seperti orang-orang lainnya, pada akhirnya kita merasai Ramadhan akan pergi. Sudah malam terakhir, dan besok sudah malam ied. Dan saya yakin-seperti yang lainnya-pasti kita memiliki perasaan sendiri-sendiri terkait malam terakhir ini.

Jika bertanya pada saya, tentu saja saya sedih. Ramadhan yang sepertinya baru kemarin pada akhirnya harus berlalu begitu saja. Sudah beberapa kali Ramadhan melewati saya begitu saja. Dan ini, Ramadhan yang pertama kali saya lalui di negeri orang, pada akhirnya pergi juga.

Saya memilih untuk berbuka di Masjid Itaewon di malam terakhir ini. Bukan apa-apa, sebagai muslim yang sudah bermukim selama hampir enam di Seoul, saya belum pernah sekalipun berkunjung ke.masjid Itaewon. Karena itu, meskipun berangkat sendiri-teman sedang ada urusan :(- saya pun memutuskan untuk harus pergi ke Itaewon.

Alasannya bukan hanya untuk merasakan atmosfer Ramadhan, karena saya sudah sering berbuka bersama teman-teman Indonesia sehingga tetap bisa merasakan atmosfer Ramadhan. Tapi entah kenapa, saya hanya merasa bersalah melewatkan Ramadhan tanpa sama sekali ke masjid terbesar di Seoul ini.

Masjid Itaewon, Seoul

Wanna More.?