rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Rabu, 14 Maret 2012

#NegeriOrang Part 2: Acuh, Tapi Bukan Berarti Tak Peduli

Pada awalnya memang sakit ketika kita memanggil dan meminta bantuan tapi orang itu mengibaskan tangan...
Sebelumnya memang saya sudah membayangkan hal ini akan terjadi. Tetapi apa yang sesungguhnya terjadi tetap saja di luar perkiraan. Hidup di negara orang, apalagi di kota besar sebuah negara maju, ternyata harus menghadapi tingkat individualis yang luar biasa. Jangan bayangkan orang-orang di sekitar mau dengan mudah membantu seperti di Indonesia.
Contoh kecil saja, betapa sulitnya meminta bantuan orang lain untuk menunjukkan jalan ketika kita tersesat di jalan di Seoul. Orang-orang berjalan begitu cepatnya, tanpa menengok ke kiri dan ke kanan, bahkan untuk menyempatkan menengok saja rasanya sudah menghabiskan banyak waktu. Pertama kali saya dan teman saya naik subway—sendiri,tanpa teman Korea ataupun orang yang sudah pernah naik—jelas saja kami sedikit kebingungan mencari jalur mana yang benar. Kami pun mencoba bertanya kepada orang yang ada di stasiun. Hasilnya, satu orang menjawab bukan orang Seoul dan yang lainnya tidak menengok sama sekali. Kalau di stasuin subway, bantuan masih bisa ditemui karena banyak polisi yang berjaga-jaga di stasuin.

Lain halnya jika kita berada di jalan besar dan kebingungan mencari arah. Orang yang terlihat tidak terburu-buru saja kadang langsung mengibaskan tangan pertanda sedang tidak bisa dimintai bantuan, apalagi yang sedang terburu-buru. Pengalaman pertama seperti itu, maka selanjutnya ketika kami berada di jalan dan kebingungan, kami lebih memilih mencari jalan sendiri di peta daripada bertanya kepada orang di jalan. Untungnya, di beberapa spot ada jaringan wi-fi yang bisa digunakan sehingga memudahkan.
Hal inilah yang membuat saya mulai mengerti kehidupan di kota besar. Kota besar seperti Seoul memang memiliki kehidupan yang nyaris tidak berhenti, dari pagi hingga pagi lagi. Tempat di mana segala permasalahan—ekonomi, politik, sosial—berkumpul tentu saja membutuhkan efisiensi waktu yang sangat padat. Wajar jika waktu dan uang begitu diperhitungkan di sini. Orang rela untuk berlarian di eskalator untuk mengejar subway yang mungkin sudah datang.
Kondisi ini memang sesuai dengan prinsip orang Korea, 빨리 빨리 (ppalli ppalli, cepat-cepat) yaitu ingin segala sesuatu diselesaikan dengan cepat tanpa kecuali. Pengalaman saya berurusan dengan orang Korea, memang mereka selalu mengejar kita untuk menyelesaikan urusan dengan cepat. Jadi jangan bosan dengan pesan singkat yang terus dikirim setiap hari untuk mengingatkan. Hal ini jelas tidak bisa disamakan dengan salah satu prinsip orang Jawa, alon-alon asal kelakon, pelan-pelan asal selamat. Karena itu, wajar jika ada jetlag yang cukup besar ketika saya mengalami perpindahan dari Yogyakarta ke Seoul.
Meskipun mungkin bukan alasan yang valid, faktor musim juga menentukan sikap dan tingkah laku orang Korea. Apalagi sekarang sedang musim dingin, orang jelas tidak mau berdiam lama di luar ruangan karena cuaca yang cukup menggigit. Karena itu, mereka tidak ingin menghabiskan waktu di jalan dan langsung menuju ke kantor ataupun ke rumah.
Namun, apakah itu berarti orang Korea sama sekali tidak peduli, terutama kepada orang asing? Saya menjawabnya, tidak. Seperti sifat orang Asia pada umumnya, orang Korea juga ramah terhadap orang asing, hanya saja tidak selalu demikian. Ketika orang Korea sudah peduli terhadap kita, mereka akan membantu kita sampai permasalah kita benar-benar selesai. Mereka tidak akan segan-segan terus menemani kita di subway sambil terus menunjukkan jalan yang benar dan tiba di tempat yang kita tuju.
Bahkan ketika mereka peduli, mereka tidak segan-segan untuk memuji dan mengobrol dengan kita. Apalagi jika kita memiliki sedikit saja kemampuan bahasa Korea, itu akan menjadi nilai plus kita di mata mereka. Belum lama ini saya dan teman saya—entah apa alasannya—diberi permen oleh seorang ibu yang ada di subway. Padahal kami tidak berbuat apa-apa, hanya pada awalnya hendak mempersilahkan ibu tersebut untuk duduk. Tapi beliau menolak dengan halus bahkan memberi kami sebungkus permen. Tanpa berkata apa-apa, hanya anggukan dan sedikit senyuman.
Sedikit aneh memang ketika saya membandingkan dengan kehidupan di Jogja di mana setiap orang di sudut jalan bisa dengan bebas kita mintai pertolongan. Tapi memang inilah perbedaan budaya, secara sempit antara Indonesia dan Korea. Banyak dari mereka memang tidak peduli akan kesulitan orang lain, tapi sekalinya mereka peduli mereka akan membantu sampai masalah kita benar-benar selesai. Basa-basi memang tidak begitu laku di sini, karena memang inilah Korea.
Pada akhirnya yang perlu kita lakukan adalah memahami. Tidak ada yang akan tersakiti ketika kita memahami budaya dan sifat orang lain—apalagi berbeda negara. Justru perbedaan-perbedaan inilah yang pada akhirnya akan menyatukan kita semua. Meskipun berbeda bahasa, berbeda warna kulit, berbeda etiket dan tingkah laku maupun bahasa tubuh, satu yang harus kita yakini adalah: kita tinggal di bumi yang sama.
오전 12:15
2012-03-15
기숙사에서,,,별이 보이지 안놰

2 komentar:

Lia Wibyaninggar mengatakan...

ehem,
they have many similarities with the Japanese.
Kultur individualis, cepat melakukan sesuatu...
But, adopsi yang baik-baik saja (meski juga tak gampang jika diterapkan di Indonesia)
^___^
mampir ke blogku dunk, Dek. ahaha.

AnSdroMedA poLaris mengatakan...

itu kaenya penyakit umum negara yg udah maju secara materi deh mb, karena tujuan mereka ya materi,hehe
iya,kalo yang ini mah insya Allah ga diadopsi deh,
hehe,,bole2..
q lagi jarang nulis ni,,biasa moody. huff