rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Minggu, 11 Maret 2012

Kebudayaan Tradisional dan Sejarah

Akhirnya saya membuat kimchi (김치) juga! Setelah memendam keinginan untuk membuat kimchi begitu lama, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk membuat kimchi. Bersama dengan sekitar 20-an mahasiswa dari berbagai belahan dunia, kami belajar cara membuat makanan khas Korea yang tersohor ini.
Pada awalnya, kami berencana untuk pergi ke Museum Kimchi. Tapi—tanpa tahu alasannya—tiba-tiba kami pergi ke Seoul Global Centre. Itu adalah tempat bagi orang-orang non-Korea yang ingin mempelajari kebudayaan Korea. Sekilas tentang Seoul Global Centre, mereka menyediakan pertolongan bagi orang asing yang mengalami kesulitan untuk beradaptasi di Korea. Bahkan, terkadang ada kursus bahasa Korea gratis yang bisa diikuti oleh semua orang asing. Caranya pun terbilang unik, yaitu mempelajari bahasa Korea lewat lirik lagu. Di sini pun kita bisa mencoba Hanbok—한복, pakaian tradisional Korea—ataupun membuat pernak-pernik khas Korea. Bahkan, ada kelas Modern Dance juga!
1. Seoul Global Centre, Pusat Perbelanjaan Myeong-dong



Setelah puas mencoba membuat cermin tangan khas Korea (songeoul, 손거울), kami pun mencoba memakai Hanbok. Mungkin tidak seperti teman-teman yang lain yang belum pernah mencoba Hanbok, saya—yang sudah beberapa kali mencoba—biasa saja saat mencobanya. Mungkin ini yang dinamakan apatah bisa karena biasa, konteksnya kali ini adalah saya tidak terlalu menganggap itu hal yang baru karena sudah sering melihat dan mencobanya. Meskipun begitu, tetap saja saya menikmatinya dengan mengambil beberapa foto.
2. Membuat cermin tangan (손거울) khas Korea. Sorry gambar cerminnya kecil ^^
3. Hanbok, sayang warnanya agak wagu
4. Foto Hanbok dengan setting rumah tradisional Korea bersama teman-teman dari negara lain
Yak! Dan akhirnya ini adalah kegiatan yang saya tunggu-tunggu,membuat Kimchi! Sudah lama saya ingin membuat kimchi, namun tidak pernah kesampaian. Beberapa hari sebelum pergi ke Korea, saya berniat membuat kimchi namun saya urungkan karena waktunya mepet. Di dekat Seoul Global Center, kita bisa menemui Seoul Kimchi Academy House. Di sini kita bisa mencoba membuat kimchi ataupun tteobokki—kue beras khas Korea.
5. Bahan utama untuk membuat kimchi
Ternyata membuat kimchi cukup mudah, berikut ini bahan-bahan yang harus disiapkan:
1 sendok bawang putih (dihaluskan)
1 sendok ebi
1 sendok garam
1 sendok pasta
1 sendok pasta kedelai
3 sendok bubuk cabai
1 sendok biji wijen
Sawi
Daun bawang
Lobak
Karena ini dilakukan dalam waktu yang singkat, kami mendapatkan sawi telah direndam dengan air garam, biasanya selama satu malam. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah memotong lobak dan daun bawang sebesar batang korek api. Lobak dan daun bawang tersebut kemudian dicampur dengan bumbu-bumbu di atas sampai rata. Setelah itu, oleskan daun sawi dengan bahan-bahan yang telah dicampurkan tadi, oleskan setiap helai daunnya sampai rata. Jangan lupa untuk memasukkan lobak dan daun bawang berbumbu ke dalam setiap helaian daun sawi. Langkah terakhir adalah memasukkannya ke dalam plastik, lalu didiamkan selama kurang lebih 3 hari. Kimchi ini bisa disimpan selama kurang lebih satu bulan jika dimasukkan ke dalam kulkas.
Rasanya seperti apa? Saya belum tahu. Bahkan ketika membuat pun, saya lupa untuk memastikan rasanya. Saya harap beberapa hari lagi saya sudah bisa memakannya. Ini bukan berarti saya tidak pernah mencicipi kimchi. Saya sudah tidak asing dengan rasa kimchi, apalagi setiap kita membeli makanan pasti selalu disuguhi kimchi. Tapi tentu saja rasanya berbeda bukan memakan kimchi yang kita buat dengan tangan kita sendiri?
5. Kimchi yang sudah selesai dibuat (di dalam plastik), sayang tidak ada foto yang menunjukkan kimchinya
Yang saya agak sayangkan di sini, tidak ada penjelasan tentang budaya Korea itu sendiri, apakah itu hanbok maupun kimchinya. Secara garis besar kita jelas sudah mengetahui apa fungsi hanbok, bagaimana kimchi itu, namun tentu saja akan lebih menarik jika kita mendengar hal-hal menarik tentang kebudayaan tradisional yang sedang kita pelajari. Mungkin karena waktu yang ada singkat—hanya sekitar 3 jam, dengan total + 30 orang—sehingga kegiatan hanya difokuskan pada hal-hal yang teknis saja.
Hal ini wajar juga jika mengingat mahasiswa zaman sekarang biasanya tidak terlalu suka dengan sejarah. Tengok saja apa yang dilakukan mahasiswa jika berkunjung ke museum? Mungkin melihat-lihat sebentar, lalu mengambil foto banyak-banyak di luar museum. Rasanya semua tidak akan lengkap jika tidak ada aktivitas yang tidak terdokumentasi. Namun, alangkah lebih baiknya jika ada sesuatu lebih yang bisa didapatkan dari sebuah field trip.
Korea sesungguhnya memiliki pengelolaan yang cukup bagus dalam merawat kebudayaan tradisionalnya. Arsip-arsip sejarah negara ini cukup tertata dengan baik. Namun, mungkin sama dengan Indonesia, tidak selamanya kebudayaan tradisional ini menarik untuk pribumi. Miris, namun memang kebanyakan yang mempelajari kebudayaan tradisional suatu negara adalah penduduk negara lain. Kalau tak salah tadi saya sempat mendengar pemandu kami—orang Korea—berkata, seumur-umur saya belum pernah membuat kimchi!
오후 11:24
2012-03-11, 2012-03-12
기숙사에서, 김치를 담그고 나서

4 komentar:

ferly mengatakan...

asmaa....
keren banget poto2nya.
eh, hanbooknya kegedean ya ma? hehe
=^^=

AnSdroMedA poLaris mengatakan...

hehe,,ga jg kok..kkk
iya,biasalah ukuran hanbok mah super gede..susah deh cari yang pas..hehe

Punya.Tia mengatakan...

Lagi searching2 info korea, malah mampir ksini..hehe.. eh iya, chingu pengen ke korea lg? udah tau belum ada lomba blog dr kto Indonesia?? Hadiahnya jalan2 5D4N gratis + ketemu 2PM & miss A. Coba search di google touch korea tour kto Indonesia buat info lengkapnya aja..
Saya juga lagi proses nulis blog tentang itu.. siapa tau bisa gratisan ke korea..hehe

stylish generation

AnSdroMedA poLaris mengatakan...

Hehe,ini masih di Korea kok, sampe desember Insya Allah,
Nyusul yuukk :)