rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Kamis, 01 Agustus 2013

Yang Berjalan dan Berbicara Terlebih Dahulu


Karakter di atas bermakna ‘kakak laki-laki’.  Tanda kotak di atasnya berarti mulut dan dua garis di bawahnya berarti kaki. Seseorang yang berjalan (dengan kaki) terlebih dahulu dan memimpin dengan kata-kata, terlebih ketika sang ayah tidak ada, ia adalah kakak (laki-laki).

Dalam budaya kita, agak sulit dipahami apa relasi antara mulut dan kaki sehingga bisa membentuk makna kakak. Tapi bagi orang China—yang kita disuruh berguru sampai ke sana—seorang kakak itu bukan hanya sekedar orang yang lebih tua daripada adiknya, tapi seseorang yang berjalan atau memimpin lebih dulu. Seorang kakak menjadi contoh ketiga setelah Ayah dan Ibu, bagi adik-adiknya.


Namun, dalam budaya yang menggurita dan mengglobal ini, adakah makna ‘kakak’ tersebut dipahami sama sebagaimana dahulu? Apakah seorang ‘kakak’ masih menyadari bahwa dirinya adalah contoh bagi adik-adiknya, yang secara tak sadar hampir setiap perilakunya akan dicontoh? Ataukah, di masa di mana seseorang tidak lagi menjadi seorang ‘kakak’ maupun adik, apakah ia kehilangan sebuah peran di mana ia harus belajar menjadi seorang teladan?

Saya pun—sebagai seorang kakak—sering merasa tidak sadar bahwa apa yang saya lakukan dicontoh oleh adik-adik saya. Saya menyukai artis A, ternyata adik saya pun begitu. Saya ingin pergi ke sini, adik saya pun ingin juga mengikuti jejak kakaknya. Bahkan tanpa disadari, riwayat hidup saya yang menempuh kuliah di universitas A, kemarin sempat pergi ke negara B, dipromosikan oleh mereka, membuktikan bahwa mereka mencerna penuh tingkah laku saya dan ingin mencoba mirip seperti kakaknya.

Dan mungkin jawaban dari pertanyaan, kenapa saat ini Indonesia seakan tidak memiliki teladan (pemimpin) yang baik, adalah karena kebanyakan dari kita lupa bahwa kita adalah seorang kakak, lupa bahwa kita adalah seorang teladan yang dicontoh orang lain. Apalagi yang bisa dicontoh oleh seseorang ketika ayahnya sibuk bekerja, ibunya pun begitu, dan kakaknya seperti begitu saja meninggalkannya? Seperti orang bilang, rumah adalah tempat pembelajaran pertama. Memang, entah itu pembelajaran baik maupun buruk. Dan lagi, ketika ia mencoba mencari pembelajaran di luar, yang ia temui adalah ironi bangsa yang terus merasa kekurangan pemimpin.

Menjadi seorang teladan memang bukan hal yang mudah. Merujuk kembali ke makna karakter China di atas, posisi seorang ‘kakak’ adalah menjadi pemimpin, terutama ketika sang ayah tidak ada. Ini bukan permasalahan seorang ‘kakak’ menyalahkan ayahnya karena ia tak ada untuk menjadi seorang pemimpin, tapi karena ini adalah tugas seorang ‘kakak’ ketika sang ayah tidak di tempat. Kalau kata orang China bilang, inilah yang mereka lihat selama beratus-ratus tahun sebelum tulisan tersebut dibentuk.

Pada akhirnya, keteladanan itu menjadi tugas kita, baik bagi seorang kakak, seorang adik, maupun yang bukan seorang kakak maupun adik. Kita tidak menyalahkan para pendahulu kita yang telah tiada dan kini tidak bisa lagi memberikan pelajaran kepada para penerusnya, dan juga bukan perkara menyalahkan ‘ayah-ayah’ sekarang yang tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Karena itu berarti, saatnya bagi seorang ‘kakak’ untuk menjalankan tugasnya memimpin ‘adik-adik’ di belakangnya, hingga nanti sampai ‘adik-adik’nya bisa berjalan sendiri dan menjadi seorang ‘kakak’.

Tabik.

Setiap dari kita adalah manusia yang berjalan dan berbicara lebih dulu dibandingkan manusia lainnya. Meski kita juga entitas yang berjalan dan berbicara setelah melihat orang lain.

2013-08-01
Teruntuk adik-adikku yang telah dan akan terus menjadi seorang ‘kakak’

2 komentar:

uni martowardoyo mengatakan...

Dan saya adl adik yg terlalu terkonsep oleh karakter dan jalan pikiran kakak2 sya...

Nice post, kak Asma.. :)

Asma Azizah mengatakan...

iya, sadar ga sadar ternyata sosok kakak itu mempengaruhi adik2nya, :)