rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Sabtu, 21 Juli 2012

#NegeriOrangPart9: Ramadhan Pertama

Mungkin ini kadang yang dicari kita-sebagai muslim-ketika mendapatkan kesempatan untuk tinggal dalam waktu yang lama di negeri orang: Ramadhan. Mau tak mau kita mengakui akan kenangan-kenangan Ramadhan yang setiap tahun mampir ke kehidupan kita. Mungkin kita tak sadar, tapi ternyata tarawih pertama, sahur pertama, malam takbiran, petasan dan lain-lain ternyata meninggalkan kesan tersendiri.

Semakin bertambahnya umur kadang menghilangkan kepekaan kita akan kebiasaan istimewa yang kita lalui saat Ramadhan. Bahkan terkadang, pada akhirnya kita menganggap Ramadhan sama dengan hari-hari biasa, dengan perbedaan kita menjalani puasa setiap hari selama kurang lebih 30 hari. Setelah Ramadhan, lebaran, lalu sudah.



Oke, saya ingin berbicara kerinduan di sini. Ternyata benar kata orang, kita tak pernah merindukan matahari ketika hujan tak turun dan kita tak pernah merindukan rintik hujan ketika matahari bersinar anggun. Di sini, pertama kalinya saya mencicipi Ramadhan pertama saya di negeri orang, kerinduan itu main berlompatan saja di benak saya. Mungkin ketika saya menikmatinya di negeri mayoritas muslim, saya tidak akan sedemikian melankolis. Tapi saya di sini, di Korea. Negeri di mana pembicaraan agama bukan pembicaraan yang pantas untuk diperhatikan.

Karena tiba-tiba, saya merindukan malam pertama Ramadhan. Ketika saya dan teman-teman sebaya beramai-ramai datang ke masjid untik tarawih berjama'ah. Sebenarnya bukan tarawih yang menjadi fokua tujuan kami, tapi bisa bercengkeama di bawah malam yang berbintang adalah keasyikan tersendiri.
Karena tiba-tiba, saya merindukan buku catatan ceramah tarawih dan subuh yang hingga SMP masih saya terima. Di saat kami berbondong-bondong menuju mimbar imam di saat shalat witir selesai. Saya masih ingat saya serig bersantai ria, karena yang menjadi imam adalah abi dan kakek saya. Saya toh bisa meminta di rumah.


Karena tiba-tiba, saya merindukan jalan-jalan selepas subuh. Kami menuju taman kota bersama degan mukena lengkap yang masih terpasang di badan.
Karena tiba-tiba, saya merindukan suara petasan yang bersahur-sahutan. Walaupun pada saat umur aaya kian bertambah, saya sadar bahwa suara petasan ternyata memekikkan telinga.

Karena tiba-tiba, saya merindukan diri saya yang sering rewel.dan ngambek ketika dibangunkan untuk makan sahur.

Karena tiba-tiba, saya merindukan suara takbir yang bersahut-sahutan ketika malam 1 syawal. Yang membuat saya sadar bahwa tanggalan hijriah itu dimulai dari waktu tenggelamnya matahari.

Karena tiba-tiba, saya merindukan lauk rendang dan empek-empek yang dimasak oleh ummi saya tercinta. Saya juga membantu sih, walau hanya mengurus tingkat pertamanya saja.

Karena tiba-tiba, saya merindukan maaf-memaafkan antar keluarga dan teman-teman, silaturahmi ke sanak saudara, yang tentu saja angpaunya lebih menarik bagi saya waktu itu.

Dan malam pertama Ramadhan saya di Jogja, malam pertama tanpa keluarga saya, saya selalu teringat lantunan Al-Quran imam masjid Nurul 'Ashri, yang hati nakal saya berkata, 'lumayan nih buat murajaah (mengulang hafalan)' karena selalu dimulai dari surat Al-Baqarah.

Dan malam Ramadhan selanjutnya, di mana kami sau kontrakan harus bangun
pagi-pagi sekali untuk memasak makanan sahur. Ada kalanya memasak sambil mengantuk, atau salah satu teman malah asyik tertidur...

Ramadhan di Indonesia serasa seperti surga. Tidak perlu bersusah-susah untuk menandai Ramadhan, karena setiap muslim bersuka cita menyambutnya.

Tidak perlu bersusah-susah untuk menahan godaan terhadap makan minum karena warung-warung makan tutup saat siang. Walau ternyata menahan hawa nafsu lebih susah.

Tidak perlu bersusah-susah mencari orang yang terus mengingatkan untuk beramal baik di bulan Ramadhan, karena setiap orang berlomba-lomba untuk mengingatkan.

Tidak perlu bersusah-susah mencari masjid untuk tarawih, karena bahkan kita bingung hari ini mau di masjid A atau B?

Ternyata saya rindu ketika hal-hal tidak bisa saya jumpai mudah di sini. Menjumpai perempuan berjilbab di sini tentu tidak semudah ketika kita menjumpai perempuan berjilbab di Indoneisia. Kebalikannya, kita kadang dianggap aneh karena memakai busana yang tidak lazim.

Ada memang masjid, tapi tentu jangan membayangkan di tiap RT ada 1 masjid. Bahkan kadang tidak mesti di satu kota itu ada.

Bukan hal yang mudah memang menjaga keimanan di negeri di mana Islam bukan mayoritas. Mau tak mau saya akui, hati saya menjadi lebih 'keras'. Karena itu saya akui, Ramadhan kali ini akan berat. Bukan karena masalah waktu puasa yang lebih panjang, yaitu dari jam 4 pagi hingga jam 8 malam. dan juga panas yang menguras keringat.

Tapi permasalahan hati...yang merasa belum siap menghadapi Ramadhan di negeri orang.

Anyway, yang bisa saya lakukan adalah go-ahead. Saya akui mengerasnya hati saya membuat saya berat menjalani Ramadhan kali ini. Tapi bukankah itu berarti inilah momentum saya 'melunakkan' kembali hati saya?
Karena saya juga yakin, rahmat Allah itu tersebar di mana saja, tak terkecuali pula di negeri matahari tenggelam ini... :)

Tabik.

2012년07월21일
오전 12:45
@양산부인과...

0 komentar: