rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Kamis, 30 Agustus 2012

Empat Paperku Tercinta~~ #ThePowerofKepepet

Saya tidak tahu apakah saya bersyukur memiliki kemampuan ini atau haruskah saya instropeksi diri? Guru-guru saya sedari SD hingga SMA selalu berkata persiapan adalah penting. Belajar sistem SKS--Sistem Kebut Semalam--itu tidak baik. Mengerjakan tugas itu jangan ditunda-tunda, dsb. Tapi--dengan memohon maaf sebesar-besarnya kepada mereka--sampai saat ini saya tahu bahwa saya adalah orang suka menunda-nunda pekerjaan.


Source: http://www.alemany.org/ourpages/auto/2010/3/8/47908650/study.jpg
Contoh nyatanya terjadi beberapa hari lalu. Saya diwajibkan membuat lima paper bertemakan Kebudayaan Korea agar nilai saya di UGM bisa keluar. Well, memang dikumpul tepat pada waktunya. Tapi itu dengan kerja rodi mengerjakan empat paper dalam waktu sehari!
Wanna More.?

#NegeriOrangPart20: Ied Pertama Namun...

Selama ini, saya terus meyakinkan diri saya bahwa perjuangan bangsa Indonesia untuk maju sedang dimulai dan pasti akan membuahkan hasil. Terus meyakinkan diri saya bahwa saya bangga menjadi orang Indonesia. Tapi tiba-tiba saya goyah sampai hari ini.
Permasalahan kecil sebenarnya --> Sampah. Tapi meskipun kecil, saya merasa bahwa bukan tak mungkin dikarenakan hal itu kita masih belum puas dengan apa yang dicapai oleh bangsa kita sampai saat ini.

Apalagi karena kejadian ini terjadi setelah Shalat Ied, saya serasa tak bisa memaafkan hal ini. Selepas shalat Ied, sejauh mata memandang hanyalah sampah yang berserakan di mana-mana. Tas bingkisan, botol air mineral, brosur, bahkan roti yang sama sekali belun tergigit.
source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIJ_VXLuyCJDsxhS6yAZW1MjTwWyksT6-nm4T9KGEn0m7CQqB7IFnEommdIHTt-AqP0Qa1CWexLkmM7Qnzfe_qwj-x_-JrmLKTEFsBWJV7jrmwJtMKPR-M8dNmamJTp3kn-lCpBquW87V1/s1600/sampah.gif


Wanna More.?

Sabtu, 18 Agustus 2012

#NegeriOrangPart19: Demilitarian Zone of Korea5 "Catatan Akhir Sebuah Perjalanan"

Pada akhirnya saya bisa merasakan kenapa masa-masa wajib militer (wamil) bagi seorang lelaki Korea itu merupakan masa yang menegangkan. Mereka menangis saat berangkat, dan menangis lagi saat pulang...


Credit:  http://www.worldatlas.com/webimage/countrys/asia/koreanpn.gif 
Pertama kali yang saya rasakan pada saat saya tiba di DMZ, adalah ketegangan. Bukan cuma dikarenakan melihat para tentara yang memegang senapan, tapi karena ada perbatasan di sana. Perbatasan yang suatu saat bisa terus ada, atau--lebih baiknya--menghilang seperti Tembok Berlin.

Wanna More.?

#NegeriOrangPart18: Demilitarian Zone of Korea4 (Imjingak)

Meskipun sedih dan pahit, kita tetap menyimpan doa bukan?


Bagaimanapun, perang selalu menyisakan kepedihan, bagi yang merasakan maupun yang mendengarkan kisahnya. Tak ada perang tanpa korban, tak ada perang tanpa pengorbanan, dan tak ada perang tanpa sakit. Tapi memang lebih baik perang menimbulkan sakit, karena pada akhirnya manusia tahu bahwa terus berperang itu bukan solusi.

Imjingak Resort
Wanna More.?

#NegeriOrangPart17: Demilitarian Zone of Korea3 (Dorasan Station)

Pasti nanti, nanti kita akan bertemu lagi. --Stasiun



Tiba-tiba saya teringat tulisan saya akan puisi-puisi yang bertebaran di stasiun kereta bawah tanah Korea (#NegeriOrangPart5: Puisi di Subway?...). Entah kenapa, stasiun merupakan tempat yang romantis bagi saya. Ada pertemuan, ada perpisahan. Karena itu, saya begitu terkesan akan puisi-puisi yang dipajang di stasiun subway. Di samping sebagai "penyejuk hati" di tengah suasana kota yang sibuk dan tak henti, adanya suasana hening dan bahagia menambah kekhidmatan puisi itu sendiri.

Dorasan Station. Mengingatkan saya pada kata Dorawa (돌아와), kembali...
Tempat ketiga yang saya kunjungi adalah Dorasan Station. Dari luar, stasiun ini tak jauh berbeda dengan stasiun subway seperti umumnya. Tapi ketika mencoba mengetahui kenapa stasiun ini dibangun, harapan baru terus menyeruak...
Wanna More.?